Manusia dilahirkan untuk hidup. Menjadi bagian dari dunia, di mana terdapat orang-orang dari berbagai usia dan karakter. Lambat laun mereka akan semakin mengenal dan juga akan semakin merasa nyaman satu dengan yang lainnya. Namun tak tertutup kemungkinan di antara mereka selalu timbul rasa iri, cemburu yang mengakibatkan setiap orang berdiri pada prinsip masing-masing yang mengetengahkan ego sebagai cikal bakal permusuhan. Kemudian lahirlah orang-orang jahat, munafik, dan mungkin orang yang suka mencari kejelekan orang lain. Sebab dia sudah merasa yang paling benar dalam menjalani kehidupan di dunia ini. KEHIDUPAN... Raihlah dia. Jangan buat menjadi MALAPETAKA... Jangan buat menjadi CERCAAN... Jangan buat menjadi SANDUNGAN... Jangan buat menjadi NISTA... Raihlah dia, dan buatlah menjadi KEHIDUPAN YANG BERMAKNA!!!
Tanpa disadari belakangan ini masalah yang timbul dan kerap diperbincangkan bahkan menjadi sebuah titik permasalahan di kalangan kita adalah tentang pornografi yang sebenarnya diartikan dari segi yang berkaitan dengan sexualitas. Dan sehubungan dengan itu, dibuat dan diberlakukanlah sebuah undang-undang yang kita kenal dengan undang-undang pornografi. Banyak kalangan yang kontra dengan diberlakukannya undang-undang tersebut sebab di lain pihak ada yang merasa dirugikan dan ada yang merasa diselewengkan sebab ada hal-hal yang masih rancu dari kepornografian yang dimaksud.
Kalau dilihat dari sudut pandang psikologis, pornografi itu mengarah pada perlakuan yang mempertontonkan sesuatu yang bersifat erotis. Namun perlu ditelaah kembali arti dari pornografi tersebut dari berbagai macam adat dan kebiasaan. Mungkin bagi wanita yang berkerudung (jilbab) dengan memperlihatkan diri ke hadapan publik tanpa mengenakan kerudung bagi dia itu sudah merupakan suatu kesalahan yang bisa diartikan sebuah tindakan erotis karena memperlihatkan auratnya. Dan istilah kerennya bisa dikategorikan ke dalam salah satu tindak pornografi. Beda lagi bagi orang yang sudah biasa dengan pakaian yang minim alias seksi, mungkin dengan busana yang serba tanggung bisa jadi menjadi bagian dari hidupnya yang tak bisa dikatakan tindakan erotis, karena sudah menjadi kebiasaan sehari-hari. Karena itu hendaknya sebuah undang-undang lebih mengarah ke sesuatu yang membangun dengan tidak mengabaikan sebuah kebiasaan yang terjadi seiring perkembangan zaman. Tak ada kata yang tepat dari sebuah pemikiran untuk bisa mengejawantahkan undang-undang yang dilahirkan, namun tak ada juga kata dari sebuah pemikiran yang bisa melecehkan undang-undang yang telah dirunut dengan baik. Tak ada kata tak ada istilah, namun semuanya itu masih di ambang kata!
Mengapa kerap semuanya itu dikaitkan dengan seksualitas? Hal ini didasari karena pola pikir kita tentang seksual masih beraneka ragam dan sering dianggap ke sesuatu yang bersifat negatif. Masih banyak orang yang menganggap kalau seksualitas itu hanya mengarah pada aspek persetubuhan, ada juga yang menterjemahkan seksualitas itu ke sebuah pemahaman alat kelamin dan fungsi dari alat kelamin tersebut. Dan tak tertutup kemungkinan bahwa ada orang yang mengarah pada perbedaan gender kalau dengan mendengar istilah seksualitas. Tak heran jika karena itu istilah seksual masih dianggap tabu jika diperbincangkan di tengah-tengah keluarga karenamasih berfokus pada pola pikir yang sumir. Padahak sangat baik jika di dalam keluarga seksual dibicarakan dan menjadi topic yang dianggap sangat perlu untuk dimusyawarahkan sebab dengan demikian anggota keluarga khususnya anak semakin siap untuk menghadapi masa remaja dan menuju dewasa yang berakhir pada kehidupan suami isteri yang mau tidak mau selalu dekat dengan apa yang dinamakan seksual. Dan perlu untuk diingat bahwa seksual tidak melulu diartikan sebatas hubungan intim atau persetubuhan. Seksualitas masih menganut arti yang sangat mendalam yang bisa dikaji menjadi arti yang sangat berharga bila dilihat dari segi edukasinya.
Dengan beraninya para orang tua untuk membicarakan masalah seksualitas di tengah keluarga, dengan demikian anak bisa mengerti mana yang baik dan mana yang kurang baik atau bahkan sangat tidak baik. Bertolak dari titik itu anak-anak menjadi tahu dan sadar mana yang harus dilakukan dan tentu tak bisa lengkang dari segala tanggung jawab serta aspek konsekwensinya. Ada beberapa hal yang perlu dikaji dalam mencerna arti dari sebuah istilah seksual. Pertama, seksualitas berasumsikan pada sebauh edukasi yang baik yang bisa mengajarkan pada suatu pola pikir dalam kehidupan bermasyarakat. Kedua, seksualitas yang mencerminkan budaya dan adat istiadat bisa mengacu pada suatu yang dinamakan peristiwa masa mendatang yang mampu untuk membentuk karakter seseorang dalam berperilaku. Ketiga, seksualitas hanya batasan ilmu yang dibutuhkan untuk perjalanan sebuah kehidupan yang berazaskan pada kehidupan perkawinan yang monogami.
Tak ada yang bisa mengklaim bahwa pengertian kita salah dalam mengartikan seksualitas. Pemikiran yang kita berikan ibarat sumbangan yang bisa diperkaya dengan istilah-istilah/pengertian yang tentunya berasal dari pemikiran lain dari orang yang mungkin masih jauh dari sempurna. Dari semua pengertian itu kita bisa menelaah dan pada akhirnya sepakat bahwa seksualitas hanya sebatas edukasi yang bila disalahartikan bisa berbuah petaka.
Janji adalah UTANG. Sepertinya ungkapan ini sudah sangat sering kita dengarkan. Namun walaupun demikian, bukan berarti kita sudah paham dengan ungkapan tersebut di atas. Malah tak jarang kita bahkan mengabaikannya begitu saja meski artinya sangat menekankan untuk tidak melalaikannya. Janji adalah UTANG. Sesuatu yang harus dibayar jika sautu saat kita mengingkarinya. Namun sadar tidak sadar, kita sering tidak peduli akan hal itu. Merasa bahwa ingkar janji hal biasa yang tidak harus diperhatikan bagaimana dan apa cara untuk menebus kesalahan yang dilakukan. Dan orang tidak mau membayarnya karena bagi kebanyakan orang, UTANG itu identik dengan uang. Jika utang dalam berupa lain (tidak uang), maka itu tidak dianggap utang. Dan tak perlu dipikirkan. Waktulah yang akan membayarnya, meski sang waktu merasa engggan dan jijik melihat dirimu yang selalu tidak perhatian dengan janji yang telah kau ungkapkan.Janji adalah UTANG. Maka kamu harus membayarnya!! Jika tidak, kamu belum siap untuk menghadapi hal-hal baru yang penuh dengan janji-janji.Tapi bukan dengan janji semata,tetapi janji yang penuh dengan air mata. kutulis ini dengan sebuah senyuman yang mengingatkanku akan berharganya janji itu...
Adalah sebuah peristiwa yang sangat tragis ketika buruh dijadikan umpan dalam sebuah kompetisi. Namun itulah mungkin yang menjadi bagian dari hidup para buruh di Negara kita ini.Untuk sekarang ini saja, buruh menjadi begitu sangat diperhatikan dan para calon pembesar negeri ini berusaha mengucapkan janji untuk memperbaiki hidup para buruh. Ini semua terjadi sekarang, di saat pemilu semakin mendekat sebab pada prinsipnya Indonesia, secara khusus Jakarta dihuni hampir 70% buruh. Jadi buruh merupakan sasaran empuk bagi parpol.
Derita buruh
Buruhbisa jadi tak ambil pusing dengan apa yang akan terjadi dengan nasib mereka. Hal ini disebabkan karena kekurangan perhatian oleh pemerintah sendiri bagi rakyatnya yang berstatus buruh. Namun walaupun demikian para buruh adalah bagian dari hidup bangsa Indonesia yang turut memberikan sumbangsih demi jayanya Indonesia. Karena itu sudah semestinya mereka diberi perhatian agar kehidupan mereka jauh lebih sejahtera dibandingkan dengan kehidupan mereka beberapa tahun sebelumnya.
Salah satu derita yang bagi para buruh merupakan sesuatu yang sangat tidak mendukung kehidupan mereka ialah dengan diberlakukannya sistem kerja kontrak dan outsourcing pada era reformasi yang berlaku hingga sekarang. Sangat jelas bahwa sistem kerja kontrak dan outsourcing tidak memberikan keadilan jaminan penghidupan yang layak bagi buruh. Sistem ini sangat merugikan buruh dan hanya menguntungkan bagi tuan si pemberi kerja. Dan tampak jelas dari sistem ini bahwa buruh sangat tidak dihargai jasanya. Namanya saja kontrak. Jika sudah tidak menguntungkan lagi bagi si pemeberi kerja, kontrak pun bisa di-cut bahkan oleh sepihak tanpa memberikan alasan yang jelas. Dan sudah pasti pula para buruh akan merasa cemas apabila mendekati masa kontrak berakhir. Cemas akan sebuah keputusan baru dari pihak pemberi kerja sebab tidak tertutup kemungkinan perjanjian kerja tidak diperpanjang alias diberhentikan. Untuk mencari kerja baru sangatlah tidak gampang, bahkan dengan hadirnya beberapa perusahaan yang mencari tenaga kerja melalui yayasan semakin memperkecil pendapatan buruh, sebab upah buruh dipotong untuk membayar jasa yayasan yang sudah mencarikan kerja bagi mereka. Dan sudah tentu bahwa proses yang diberikan yayasan sangatlah ribet. Di samping sistem kerja kontrak dan outsourcing, SKB Empat Menteri juga sangat memberatkan bagi para buruh. Hal ini dinilai bahwa pemerintah sangat tidak berpihak kepada buruh. Dan bisa dikatakan dengan lahirnya SKB Empat Menteri merupakan lemahnya pemerintahan kita berhadapan dengan pasar. Ketika pemerintah tidak sanggup berhadapan dengan krisis, para buruh menjadi korban dari kelemahan pemerintah berhadapan dengan krisis tersebut.
Cakrawala baru sebagai solusi bagi buruh
Ternyata sudah banyak insan politik yang menyadari bahwa kehidupan buruh sangat terintimidasi dan kurang diperhatikan oleh pihak-pihak yang sebenarnya patut untuk memperhatikannya. Karena itu para buruh merasa berjuang sendiri. Maka tak pelak lagi kalau banyak aktivis buruh yang dengan berani (entah mereka punya modal untuk itu) mengincar bangku parlemen dengan tujuan agar memihak pada buruh dan supaya tidak ada lagi pelanggaran hak buruh karena selama ini nasib buruh tidak pernah diperhitungkan (Kompas, 06/02/2009).
Seharusnya pemerintah harus menyadari kalau buruh itu ikut andil menanamkan saham-saham di berbagai perusahaan. Mereka bisa dikatakan sebagai mesin perekonomian yang mampu membuat Negara semakin berkembang. Karena itu pemerintah kita harus berani bertindak demi menyejahterakan buruh. Hal yang patut untuk dilakukan pemerintah adalah menghapus sistem kerja kontrak dan outsourcing dan juga mencoba mengamati kembali SKB Empat Menteri yang sebenarnya sangat memberatkan bagi kaum buruh. Itu merupakan solusi yang terbaik bagi para buruh Indoneisa. Itu saja.
Parlemen vs Buruh
Tak lengkang dari setiap parpol mengusung buruh menjadi objek untuk menarik perhatian setiap orang agar dengan demikian banyak orang yang simpatik pada parpol tersebut. Menjanjikan yang baik-baik pada buruh. Tak cukup di negeri sendiri, Negara jiran Malaysia yang banyak memperkerjakan warga Indonesia sebagai TKI menjadi sasaran empuk. Demikianlah yang tergambar pada harian Kompas, 06/02/2009 di mana partai Hanura yang diketuai oleh Wiranto mencoba menerobos dan mengajak para TKI yang ada di Malaysia untuk ikut melaksanakan pemilu pada juli mendatang. Banyak ungkapan yang mengatakan kalau di Indonesia masih banyak kerjaan dan siap menampung para TKI yang sebenarnya penghasilan dari setiap orang yang sudah lama di sana sama saja dengan di Indonesia. Benarkah di Indonesia masih banyak kerjaan? Bukankah sekarang ini, di saat krisis global melanda, perekonomian merosot dan banyak terjadi pemutusan hubungan kerja? Dan tingkat pengangguran masihtinggi?
Benarkah dengan mengajak para TKI ikut serta dalam pemilu 2009 mereka bisa bekerja di negeri sendiri? Hal yang mustahil untuk saat ini. Mengapa? Karena hingga detik di mana tulisan ini diturunkan masih tercatat bahwa lapangan kerja di Indonesia masih sangat sempit. Hendaknya buruh jangan dijadikan sebagai objek semata. Mereka butuh perhatian dari para petinggi pemerintahan bukan janji manis yang masih antah berantah.
Penulis bekerja di Yayasan Tri Asih
Dan sedang kuliah di Program Vokasi Bidang Kedokteran
Tak seorangpun manusia di dunia ini yang tidak pernah merasakan sedih. Jika memang ada, mereka bukanlah manusai. Bagi gue. Karena itu, jangan terlalu gundah hatimu jika kesedihan melanda. kamu harus kuat dan tabah. Bisanya nasehatin doang kayaknya. hehehee.... Yang jelas, tanda-tanda sedih itu muncul jika kamu masuk dalam sebuah permasalahan. Baik yang rumit bahkan yang ringan sekali pun. Kita tak bakalan bisa menghindar dari itu selama masih hidup. Sedih adalah bagian dari hidup yang gak bakalan bisa kita lewati. Aku jg sering sedih, apalagi kalau menyaksikan duniaku yg selalu sedih.... Ibu, apakah waktu engkau mengandung aku selalu dalam keadaan sedih???
Mochtar Lubis, sastrawan, wartawan dan aktivis sosial serta salah satu pelopor pembicaraan masalah lingkungan hidup di Indonesia dalam pidatonya yang berjudul ‘Manusia Indonesia, Sebuah Pertanggungjawaban’ yang dibacakan pada tahun 1977 di Taman Ismail Marzuki mengungkapkan secara lantang bahwa ‘salah satu ciri manusia Indonesia yang cukup menonjol ialah Hipokritis alias Munafik. Berpura-pura, lain di muka, lain di belakang, merupakan ciri utama manusia Indonesia sudah sejak lama…” (Majalah HIDUP, No.32 tahun ke-62, 10 Agustus 2008, hal.50). Ciri yang demikian ternyata masih melekat dalam kehidupan para manusia Indonesia, baik mereka yang sudah mengayam pendidikan tinggi setingkat sarjana maupun mereka yang tanpa pendidikan formal, tetap memiliki sifat hipokritis.
Secara psikologis sifat hipokritis ternyata berpengaruh kuat dalam kehidupan kita secara khusus dalam menempuh suatu kemajuan, dan mampu merusak diri sendiri, orang lain serta di kehidupan berbangsa. Merugikan diri sendiri yakni tak mampu untuk mengungkapkan apa sebenarnya yang ada dalam hati. Lain di dalam lain di luar. Dengan demikian seseorang akan bekerja dengan setengah hati dan tak akan pernah tuntas. Mau bekerja dengan serius jika hanya di depan pimpinan, namun kalau di belakang sang pimpinan malah bermalas-malasan. Dengan demikian kita telah merusak sendiri citra diri kita sebagai manusia yang berbudi dan berakal sehat yang dengan semestinya mampu untuk melakukan sesuatu yang sejalan dengan hati nurani. Mengatakan ‘tidak’ kalau memang ‘tidak’ meskipun hanya kita seorang dari beribu orang yang mengatakan beda dari yang lain.
Dari sifat hipokritis bisa juga menimbulkan hal-hal yang tidak terpuji seperti yang belakangan ini marak terjadi (meskipun dari dulu sudah terjadi), yakni menjadi seorang koruptor. Lihat saja para anggota dewan dan para politikus lainnya, hidup seolah-olah tanpa beban di depan publik dan tetap tersenyum kepada rakyat yang telah dirampas haknya. Sosok yang selama ini sangat dibanggakan ternyata berubah menjadi seorang yang duduk dibangku pengadilan sebagai terdakwa atas segala yang dilakukan yang tak lain ialah untuk memperkaya diri sendiri dan anggota keluarga dengan tindak korupsi. Ternyata selama ini orang-orang demikian hanya pura-pura peduli pada rakyat yang semakin miskin karena dimiskinkan oleh para sosok yang ingin hidup mewah di tengah-tengah orang yang sangat menderita. Dengan demikian kerugian yang ditanggung oleh negara sangatlah besar.
Be yourself
Kemunafikan atau hipokritis merupakan pola tingkah laku yang rentan dimiliki oleh setiap orang, meskipun tetap ada satu dari sepuluh yang memegang teguh nilai-nilai prinsip yang sangat bertentangan dengan hipokritis, yang sangat tidak disenangi oleh siapapun jika berhadapan dengan orang seperti itu. Sangat jelas tampak kalau sifat hipokritis sangat tidak mendukung kita baik pribadi maupun antar sesama dalam menempuh suatu kesuksesan. Karena itu kita harus membuang jauh-jauh sifat hipokritis itu agar kita mampu melangkah setapak demi setapak untuk meraih kesuksesan. Jadilah diri sendiri dan jangan memakai topeng sebagai tameng untuk menutupi kedok.
Katakan ‘tidak’ kalau ‘tidak’!
Katakan ‘ya’ kalau ’ya’!
Katakan ‘putih’ kalau ‘putih’!
Katakan ‘hitam’ kalau ‘hitam’!
Katakanlah ke seluruh dunia apa yang tersirat di hatimu agar kita bisa bangkit melawan kemunafikan yang telah lama merasuki jiwa dan hati kita agar bangsa ini bisa tersembuhkan dari segala macam penyakit yang sudah lama diderita. Semuanya harus berawal dari diri kita sebagai manusia Indonesia yang mendambakan kemakmuran yang adil dan sejahtera. Itu bisa tercapai kalau bangsa Indonesia dipenuhi oleh manusia-manusia yang tidak hipokritis.
Di tengah malam. Tampak sejumlah aktivitas di tengah hiruk pikuknya kotaJakarta. Orang hilir mudik mulai dari yang berdasi hingga pedagang asongan yang barangkali tak pernah memakai dasi selama menjadi manusia. Bahkan di saat hari pernikahannya, sebab harga rupiah yang diperuntukkan beli dasi lebih baik membeli perlengkapan yang lainnya. Dan tak hanya kaum maskulin yang berkeliaran di waktu gelapmenyelimuti bumi, di saat jarum setiap jam menunjukkan ke angka dua belas. Para perempuan juga terlihat tanpa enggan menerobos gelapnya malam yang terang akibat bias lampu-lampu ibu kota. Mulai dari yang berpakaian daster, seorang ibu yang pekerjaannya menjaga kios yang setiap malamnya diramaikan para manusia malam ibu kota. Tak begitu banyak untung yang diraih, hanya cukup-cukup makan. Dia lebih memilih hidup menyangkal matahari terbit dari ufuk timur agar mentari tidak menyingsingkan fajarnya sehingga gulita menjadi benderang. Karena malam adalah hidupnya. Untuk mencari rezeki.
Seorang perempuan dengan stelan pakaian kerja melintas dan meminta sesuatu kepada ibu berapakaian daster, penjaga kios itu. Malam-malam begini sebenarnya waktu yang cocok untuk mengenakan piama dan memanjakan tubuh di atas ranjang menikmati indahnya malam hingga mampu menghantar setiap orang ke peraduan bersama sang mimpi hingga mampu melupakan segala keluh kesah bahkan derita. Semoga malam ini lebih panjang dari malam yang lalu agar lara yang membara yang hinggap sebelum mata bersimpuh dan terlelap tidak teringat dan menghancurkan segala keindahan hidup. Dan hari esok tidak menjadi beban sebab pasti timbul lara-lara yang lain yang sering menggerogoti alunan jiwa yang terkapar di ujung penantian yang tak pernah berujung.
Pengakuannya dia seorang receptionist yang sudah hampir sepuluh tahun bekerja malam demi kelangsungan hidup keluarga dan suaminya. Baginya malam adalah siang dan siang adalah malam. Tidak bermaksud menyangkal pemberian Sang Khalik dengan keberadaan si Tuan Malam dan Nona Siang. Tapi itu adalah hakekat hidup yang telah tergariskan di antara manusia-manusia yang beranggapan kalau malam adalah istirahat dan kalau siang adalah bekerja.
Suaminya yang dulu seorang pialang saham terpaksa menjadi salah satu warga rumah sakit jiwa grogol. Entah kenapa. Sebenarnya sudah sering dia mengalami kekalahan dalam mengelola saham-sahamnya, tapi suatu peristiwa yang sangat tidak disangka malah kekalahannya membuahkan petaka. Sebutan psikososial sangat cocok untuk sang suami tercinta. Kepala keluarga menjadi tanggung jawab sang isteri yang harus bertarung melawan kejamnya ibu kota demi mencari sesuap nasi.
Segerombolan perempuan dengan stylesexy masa kini yang tidak ambil pusing dengan tatanan adat istiadat asal-usulnya melintasi jalanan yang tidak pernah sepi itu. Dengan wajah yang agak santai dan tidak memikirkan martabat akan nuraninya sebagai perempuan manusia ciptaan Tuhan yang paling mulia, mereka mulai beraksi dan menggoda para lelaki hidung belang yang dari tadi sudah berada di pinggiran jalan ibu kota yang ternyata hanya untuk menunggu datangnya si perempuan penjajah tubuh yang bisa memuaskan nafsu syahwat mereka. Mereka yang sudah beristeri rela menelantarkan pasangan mereka di rumah demi kepuasan semata dengan orang lain yang sebenarnya bisa diberikan oleh pasangan mereka di rumah dengan berahlak sebab itu merupakan bagian dari kehidupan perkawinan mereka. Tapi mereka lebih memilih perempuan lokalisasi untuk menyambut birahi yang tak berahlak. Wajah-wajah dengan senyum yang dipaksakan membawa mereka ke pilihan lelaki yang menyukai senyum mereka. Tanpa belas kasihan. Seks menjadi harga jual mereka. Dengan tidak memikirkan harga diri sebagai perempuan yang pantas untuk dicintai dan dihormati.
“Mba Maya ya?” aku beranikan diri untuk bertanya pada perempuan yang belum dihinggapi para lelaki hidung belang itu. Aku tahu namanya karena perempuan berpakaian daster itu memberitahukannya padaku. Dia sudah jarang didekati para lelaki hidung belang karena sudah lebih banyak sejawatnya yang jauh lebih muda dan menarik dan bahenol dibandingkan dirinya. Memang tidak tampak jelas jika hanya melihat wajahnya dengan sekilas. Bedak dan kosmetik lainnya mampu menutupi dan menyembunyikan wajah tuanya nan sendu.
Dengan wajah penuh tanya Maya menarik lenganku dan membawaku ke suatu sudut jalan yang menurutnya aman. Namun bagiku tempat itu tetap tidak aman, karena itu aku mengajaknya ke sebuah restoran yang masih buka. Kata orang itu restoran yang menerima kedatangan konsumen selama dua puluh empat jam. Makanan ala barat yang sangat tidak aku senangi terpaksa aku nikmati agar perempuan yang di sampingku ini mau menyantap makanan yang sengaja kupesan untuknya.
“Anda seorang wartawan?” ternyata dia mencurigai aku, meskipun tuduhannya itu tidak benar adanya.
“Bukan! Aku bukan seorang wartawan.”
“Trus kenapa Anda berada di tempat seperti ini? Atau Anda dipaksa suami untuk bekerja di sini?”
Dari raut wajahnya dia seolah-olah membenci pekerjaannya itu. Aku sungguh tidak mengerti kenapa dia berpikiran seperti itu kepadaku.
“Aku belum menikah. Masih single!” aku meneguk starbuck yang masih hangat yang tersedia di meja. Aku yakin ada sesuatu yang terjadi pada dirinya.
“Boleh aku bertanya?”
“Tentang statusku?”
“Iya!”
“Itu tugas wartawan!”
“Tapi aku bukan wartawan!”
“Polisi?”
“Bukan juga!”
“Trus Anda siapa?”
“Aku seorang perempuan seperti Mba Maya yang merasa kasihan melihat kaumku menjadi seperti Mba Maya.”
“Tapi semuanya sudah terlanjur!” Maya menghapus air matanya.
* * *
Memang semuanya telah terlanjur. Arti dari sebuah kata terlanjur saja aku sebenranya tidak begitu paham. Tapi aku menyadari bahwa keterlanjuran membuat akal sehat seseorang tertutup untuk melakukan perubahan yang mengarah ke sesuatu yang baik. Begitulah juga dengan Maya. Kehidupan yang dia jalani di tengah gemerlapnya kotaJakarta mampu memberi dia hidup meski jauh dari layak. Menjadi pelacur. Dan itu sudah terlanjur.
“Semua ini aku lakukan demi kelangsungan hidup keluargaku.” Tangisnya semakin meledak.
“Tak ada suami?” selidikku.
Mendengar pertanyaanku dia malah tersenyum. Sinis. Entah apa yang ada di benaknya setelah mendengar pertanyaan bodohku itu. Apakah dia tersinggung mendengarnya?
“Sangat berdosa diriku jika mengatakan aku tidak memiliki suami. Apapun yang terjadi dia adalah suamiku. Entah sampai kapanpun. Toh dia telah pernah tidur denganku. Memberiku sepasang anak. Dan kami telah mengikat janji di depan Tuhan lewat imam-Nya di gereja kudus. Itu sesuatu yang tak bisa aku sangkal. Aku tetap mencintainya.”
Banyak hal yang disampaikan Maya dari jawaban itu. Mampu mendiskripsikan siapa sebenarnya suaminya dari berbagai aspek kaca mata yang dimilikinya. Sangat divergent thinking. Tiba-tiba ponsel milik Maya bernyanyi. Kulihat arlogi-ku sesaat sebelum dia menjawab panggilan masuk tadi. Pukul satu dini hari. Ada yang menghubunginya di pagi yang sangat dingin ini. Mungkin klien yang butuh kehangatan dari tubuh perempuan malang ini. Yah, itulah kerjanya. Memberi kehangatan meski kalut dan tak menginginkannya. Meski samar-samar tapi aku bisa mendengar bahwa yang menghubunginya ialah seorang lelaki. Mungkin benar tebakanku bahwa dia dihubungi lelaki hidung belang yang ingin memadu kasih dengan Maya. Entah apa yang mereka bicarakan, aku tidak begitu tahu. Hanya beberapa saat setelah dia menutup pembicaraan dia berpamitan padaku.
Tentu aku tak bisa menghalangi kepergiannya. Seperti yang dia ungkapkan bahwa hidupnya harus dia jalani. Apa pun resiko dari pekerjaan yang sedang dia geluti sekarang. Dari balik kaca restoran kulihat Maya menghampiri seorang lelaki di persimpangan jalan. Kutarik napas dalam-dalam dengan pikirian yang berkecamuk tentang perempuan di ujung jalan sana.
* * *
Meski mataku masih sangat perih tapi aku berusaha kuat untuk bangun demi orang yang menelpon aku pagi ini. Kusempatkan mata melihat wekker-ku. Sudah pukul sebelas. Di layar hp-ku tampak nomor baru.
“Halo…!” aku menyapa dengan suara yang masih agak serak.
“Ini Maya. Maaf mengganggu.” Aku terperangah setelah mengetahui bahwa yang menghubungi aku kali ini adalah perempuan yang aku temui di lokalisasi semalam. Wajahnya langsung berada di hadapanku sesaat setelah dia memberitahukan namanya.
“Apa kabar Mba Maya?”
“Aku baik-baik saja. Sekarang aku lagi di depan gereja di mana aku dulu menikahdengan sumaiku. Aku sangat senang karena sekarang aku telah melihat gereja. Tapi aku tidak masuk karena aku merasa sangat tidak layak dan tidak pantas untuk melangkahkan kakiku ke bait suci itu. Doain ya supaya kelak aku bisa masuk ke dalam untuk memuji dan memohon ampun padaNya.”
“Mba Maya di gereja mana? Kasih tahu aku. Kalau Mba Maya mau masuk ke gereja sekarang, aku akan menemani Mba Maya meskipun sudah tidak ada misa. Kita sekedar duduk di dalam gereja.”
Mba Maya malah tertawa mendengar usulan yang aku tawarkan.
“Lain kali saja, kebetulan tadi hanya lewat. Sekaraang aku harus ke rumah mami.” Telepon terputus.
Aku bisa melihat wajah Maya dengan kesenangan yang dia rasakan sekarang. Meskipun belum berhasil masuk ke dalam gereja yang ternyata sudah sangat dia rindukan. Mungkin lain waktu.
Hingga kini aku belum berhasil menemukan siapa Maya sebenarnya dan ada apa dengan kehidupannya. Tapi aku tahu kalau dia sangat terpaksa melakukan semua itu. Dan bukan kehendaknya sendiri. Mana ada perempuan yang dengan rela menjual dan menjajakan tubuhnya kepada lelaki hidung belang demi kepuasan semata. Itu hanya fiktif. Semua perempuan ingin dihormati. Mereka sangat menghargai tubuh mereka lebih dari apa yang mereka miliki.
Dan pada akhirnya mataku terbuka lebar setelah berjumpa dengan Maya. Dan menyadari bahwa selain mucikari yang disebut Maya sebagai mami, ada banyak pihak lain yang bekerja di dalam arena prostitusi. Aparat pemerintah mulai dari tingkat RT, petugas trantib, keamanan bahkan suami sendiri. Aku masih sangat susah untuk percaya bahwa para suami banyak juga yang menjual isterinya dan menjadikan mereka perempuan penghibur.
Sebuah sms masuk. Segera aku membuka dan membacanya. Dari Maya.
“Aku tak tahu kenapa aku begitu percaya padamu padahal aku belum mengenal siapa kamu sebenarnya. Yang jelas bagiku kamu adalah orang yang membuat aku kuat menghadapi kenyataan hidup ini hingga memberi aku kekuatan untuk mengubah hidup ini kelak. Kamu harus tahu bahwa aku menjadi nista begini adalah karena aku dijual oleh suamiku sendiri. Entah kenapa, sampai detikini aku belum tahu…”
Aku menitikkan air mata. Merasa kasihan bercampur haru melihat kenyataan hidup Maya. Ternyata para suami turut menguasai keseluruhan seluk beluk hidup isterinya hingga tak segan-segan menjualnya menjadi seorang pelacur.
Aku tak mau mengklaim para pelacur sebagai insan kotor dan nista sebab mereka memilih menjadi pelacur bukan karena senang dan sadar. Banyak aspek yang membuat mereka menjadi begitu. Hanya banyak orang tidak pernah mau mengerti akan keberadaan diri mereka. Satu hal yang sangat tidak aku mengerti adalah kenapa hingga saat ini pemerintah masih saja membiarkan prostitusi terus berlangsung dan ada. Meskipun sedikit agak mengklaim pemerintah, tapi menurutku kebijakan pemerintah yang demikian sangat bersifat parsial di mana pada akhirnya para pelacur sering disebut-sebut sebagai ‘sosok’ yang menyebarluaskan virus HIV/AIDS.
Aku bergegas dari tempat tidur dan berusaha mencari Maya di tempat yang aku temui satu minggu yang lalu. Di sana pasti aku bisa menemukannya dan bisa ngobrol ngidul sama dia tentang hidup ini, sebab dia sangat butuh teman. Aku tidak mau memberi lebel PSK pada Maya sebab label itu terlalu memojokkan dia dari satu pihak. Dia adalah pedila. Perempuan yangdilacurkan!