PEDILA
Oleh : Benget Simanullang
Di tengah malam. Tampak sejumlah aktivitas di tengah hiruk pikuknya
Seorang perempuan dengan stelan pakaian kerja melintas dan meminta sesuatu kepada ibu berapakaian daster, penjaga kios itu. Malam-malam begini sebenarnya waktu yang cocok untuk mengenakan piama dan memanjakan tubuh di atas ranjang menikmati indahnya malam hingga mampu menghantar setiap orang ke peraduan bersama sang mimpi hingga mampu melupakan segala keluh kesah bahkan derita. Semoga malam ini lebih panjang dari malam yang lalu agar lara yang membara yang hinggap sebelum mata bersimpuh dan terlelap tidak teringat dan menghancurkan segala keindahan hidup. Dan hari esok tidak menjadi beban sebab pasti timbul lara-lara yang lain yang sering menggerogoti alunan jiwa yang terkapar di ujung penantian yang tak pernah berujung.
Pengakuannya dia seorang receptionist yang sudah hampir sepuluh tahun bekerja malam demi kelangsungan hidup keluarga dan suaminya. Baginya malam adalah siang dan siang adalah malam. Tidak bermaksud menyangkal pemberian Sang Khalik dengan keberadaan si Tuan Malam dan Nona Siang. Tapi itu adalah hakekat hidup yang telah tergariskan di antara manusia-manusia yang beranggapan kalau malam adalah istirahat dan kalau siang adalah bekerja.
Suaminya yang dulu seorang pialang saham terpaksa menjadi salah satu warga rumah sakit jiwa grogol. Entah kenapa. Sebenarnya sudah sering dia mengalami kekalahan dalam mengelola saham-sahamnya, tapi suatu peristiwa yang sangat tidak disangka malah kekalahannya membuahkan petaka. Sebutan psikososial sangat cocok untuk sang suami tercinta. Kepala keluarga menjadi tanggung jawab sang isteri yang harus bertarung melawan kejamnya ibu
Segerombolan perempuan dengan style sexy masa kini yang tidak ambil pusing dengan tatanan adat istiadat asal-usulnya melintasi jalanan yang tidak pernah sepi itu. Dengan wajah yang agak santai dan tidak memikirkan martabat akan nuraninya sebagai perempuan manusia ciptaan Tuhan yang paling mulia, mereka mulai beraksi dan menggoda para lelaki hidung belang yang dari tadi sudah berada di pinggiran jalan ibu kota yang ternyata hanya untuk menunggu datangnya si perempuan penjajah tubuh yang bisa memuaskan nafsu syahwat mereka. Mereka yang sudah beristeri rela menelantarkan pasangan mereka di rumah demi kepuasan semata dengan orang lain yang sebenarnya bisa diberikan oleh pasangan mereka di rumah dengan berahlak sebab itu merupakan bagian dari kehidupan perkawinan mereka. Tapi mereka lebih memilih perempuan lokalisasi untuk menyambut birahi yang tak berahlak. Wajah-wajah dengan senyum yang dipaksakan membawa mereka ke pilihan lelaki yang menyukai senyum mereka. Tanpa belas kasihan. Seks menjadi harga jual mereka. Dengan tidak memikirkan harga diri sebagai perempuan yang pantas untuk dicintai dan dihormati.
“Mba Maya ya?” aku beranikan diri untuk bertanya pada perempuan yang belum dihinggapi para lelaki hidung belang itu. Aku tahu namanya karena perempuan berpakaian daster itu memberitahukannya padaku. Dia sudah jarang didekati para lelaki hidung belang karena sudah lebih banyak sejawatnya yang jauh lebih muda dan menarik dan bahenol dibandingkan dirinya. Memang tidak tampak jelas jika hanya melihat wajahnya dengan sekilas. Bedak dan kosmetik lainnya mampu menutupi dan menyembunyikan wajah tuanya nan sendu.
Dengan wajah penuh tanya Maya menarik lenganku dan membawaku ke suatu sudut jalan yang menurutnya aman. Namun bagiku tempat itu tetap tidak aman, karena itu aku mengajaknya ke sebuah restoran yang masih buka. Kata orang itu restoran yang menerima kedatangan konsumen selama dua puluh empat jam. Makanan ala barat yang sangat tidak aku senangi terpaksa aku nikmati agar perempuan yang di sampingku ini mau menyantap makanan yang sengaja kupesan untuknya.
“Anda seorang wartawan?” ternyata dia mencurigai aku, meskipun tuduhannya itu tidak benar adanya.
“Bukan! Aku bukan seorang wartawan.”
“Trus kenapa Anda berada di tempat seperti ini? Atau Anda dipaksa suami untuk bekerja di sini?”
Dari raut wajahnya dia seolah-olah membenci pekerjaannya itu. Aku sungguh tidak mengerti kenapa dia berpikiran seperti itu kepadaku.
“Aku belum menikah. Masih single!” aku meneguk starbuck yang masih hangat yang tersedia di meja. Aku yakin ada sesuatu yang terjadi pada dirinya.
“Boleh aku bertanya?”
“Tentang statusku?”
“Iya!”
“Itu tugas wartawan!”
“Tapi aku bukan wartawan!”
“Polisi?”
“Bukan juga!”
“Trus Anda siapa?”
“Aku seorang perempuan seperti Mba Maya yang merasa kasihan melihat kaumku menjadi seperti Mba Maya.”
“Tapi semuanya sudah terlanjur!” Maya menghapus air matanya.
* * *
Memang semuanya telah terlanjur. Arti dari sebuah kata terlanjur saja aku sebenranya tidak begitu paham. Tapi aku menyadari bahwa keterlanjuran membuat akal sehat seseorang tertutup untuk melakukan perubahan yang mengarah ke sesuatu yang baik. Begitulah juga dengan Maya. Kehidupan yang dia jalani di tengah gemerlapnya
“Semua ini aku lakukan demi kelangsungan hidup keluargaku.” Tangisnya semakin meledak.
“Tak ada suami?” selidikku.
Mendengar pertanyaanku dia malah tersenyum. Sinis. Entah apa yang ada di benaknya setelah mendengar pertanyaan bodohku itu. Apakah dia tersinggung mendengarnya?
“Sangat berdosa diriku jika mengatakan aku tidak memiliki suami. Apapun yang terjadi dia adalah suamiku. Entah sampai kapanpun. Toh dia telah pernah tidur denganku. Memberiku sepasang anak. Dan kami telah mengikat janji di depan Tuhan lewat imam-Nya di gereja kudus. Itu sesuatu yang tak bisa aku sangkal. Aku tetap mencintainya.”
Banyak hal yang disampaikan Maya dari jawaban itu. Mampu mendiskripsikan siapa sebenarnya suaminya dari berbagai aspek kaca mata yang dimilikinya. Sangat divergent thinking. Tiba-tiba ponsel milik Maya bernyanyi. Kulihat arlogi-ku sesaat sebelum dia menjawab panggilan masuk tadi. Pukul satu dini hari.
Tentu aku tak bisa menghalangi kepergiannya. Seperti yang dia ungkapkan bahwa hidupnya harus dia jalani. Apa pun resiko dari pekerjaan yang sedang dia geluti sekarang. Dari balik kaca restoran kulihat Maya menghampiri seorang lelaki di persimpangan jalan. Kutarik napas dalam-dalam dengan pikirian yang berkecamuk tentang perempuan di ujung jalan
* * *
Meski mataku masih sangat perih tapi aku berusaha kuat untuk bangun demi orang yang menelpon aku pagi ini. Kusempatkan mata melihat wekker-ku. Sudah pukul sebelas. Di layar hp-ku tampak nomor baru.
“Halo…!” aku menyapa dengan suara yang masih agak serak.
“Ini Maya. Maaf mengganggu.” Aku terperangah setelah mengetahui bahwa yang menghubungi aku kali ini adalah perempuan yang aku temui di lokalisasi semalam. Wajahnya langsung berada di hadapanku sesaat setelah dia memberitahukan namanya.
“Apa kabar Mba Maya?”
“Aku baik-baik saja. Sekarang aku lagi di depan gereja di mana aku dulu menikah dengan sumaiku. Aku sangat senang karena sekarang aku telah melihat gereja. Tapi aku tidak masuk karena aku merasa sangat tidak layak dan tidak pantas untuk melangkahkan kakiku ke bait suci itu. Doain ya supaya kelak aku bisa masuk ke dalam untuk memuji dan memohon ampun padaNya.”
“Mba Maya di gereja mana? Kasih tahu aku. Kalau Mba Maya mau masuk ke gereja sekarang, aku akan menemani Mba Maya meskipun sudah tidak ada misa. Kita sekedar duduk di dalam gereja.”
Mba Maya malah tertawa mendengar usulan yang aku tawarkan.
“Lain kali saja, kebetulan tadi hanya lewat. Sekaraang aku harus ke rumah mami.” Telepon terputus.
Aku bisa melihat wajah Maya dengan kesenangan yang dia rasakan sekarang. Meskipun belum berhasil masuk ke dalam gereja yang ternyata sudah sangat dia rindukan. Mungkin lain waktu.
Hingga kini aku belum berhasil menemukan siapa Maya sebenarnya dan ada apa dengan kehidupannya. Tapi aku tahu kalau dia sangat terpaksa melakukan semua itu. Dan bukan kehendaknya sendiri. Mana ada perempuan yang dengan rela menjual dan menjajakan tubuhnya kepada lelaki hidung belang demi kepuasan semata. Itu hanya fiktif. Semua perempuan ingin dihormati. Mereka sangat menghargai tubuh mereka lebih dari apa yang mereka miliki.
Dan pada akhirnya mataku terbuka lebar setelah berjumpa dengan Maya. Dan menyadari bahwa selain mucikari yang disebut Maya sebagai mami, ada banyak pihak lain yang bekerja di dalam arena prostitusi. Aparat pemerintah mulai dari tingkat RT, petugas trantib, keamanan bahkan suami sendiri. Aku masih sangat susah untuk percaya bahwa para suami banyak juga yang menjual isterinya dan menjadikan mereka perempuan penghibur.
Sebuah sms masuk. Segera aku membuka dan membacanya. Dari Maya.
“Aku tak tahu kenapa aku begitu percaya padamu padahal aku belum mengenal siapa kamu sebenarnya. Yang jelas bagiku kamu adalah orang yang membuat aku kuat menghadapi kenyataan hidup ini hingga memberi aku kekuatan untuk mengubah hidup ini kelak. Kamu harus tahu bahwa aku menjadi nista begini adalah karena aku dijual oleh suamiku sendiri. Entah kenapa, sampai detik ini aku belum tahu…”
Aku menitikkan air mata. Merasa kasihan bercampur haru melihat kenyataan hidup Maya. Ternyata para suami turut menguasai keseluruhan seluk beluk hidup isterinya hingga tak segan-segan menjualnya menjadi seorang pelacur.
Aku tak mau mengklaim para pelacur sebagai insan kotor dan nista sebab mereka memilih menjadi pelacur bukan karena senang dan sadar. Banyak aspek yang membuat mereka menjadi begitu. Hanya banyak orang tidak pernah mau mengerti akan keberadaan diri mereka. Satu hal yang sangat tidak aku mengerti adalah kenapa hingga saat ini pemerintah masih saja membiarkan prostitusi terus berlangsung dan ada. Meskipun sedikit agak mengklaim pemerintah, tapi menurutku kebijakan pemerintah yang demikian sangat bersifat parsial di mana pada akhirnya para pelacur sering disebut-sebut sebagai ‘sosok’ yang menyebarluaskan virus HIV/AIDS.
Aku bergegas dari tempat tidur dan berusaha mencari Maya di tempat yang aku temui satu minggu yang lalu. Di
Dalam keheningan senja Wisma Tri Asih
Kampung Duri, 22 Februari 2009
No comments:
Post a Comment