Monday, September 14, 2009

OPINI


DIVERSITAS SEKSUAL SERTA KAJIAN PORNOGRAFI

Oleh : Benget Simanullang

Tanpa disadari belakangan ini masalah yang timbul dan kerap diperbincangkan bahkan menjadi sebuah titik permasalahan di kalangan kita adalah tentang pornografi yang sebenarnya diartikan dari segi yang berkaitan dengan sexualitas. Dan sehubungan dengan itu, dibuat dan diberlakukanlah sebuah undang-undang yang kita kenal dengan undang-undang pornografi. Banyak kalangan yang kontra dengan diberlakukannya undang-undang tersebut sebab di lain pihak ada yang merasa dirugikan dan ada yang merasa diselewengkan sebab ada hal-hal yang masih rancu dari kepornografian yang dimaksud.

Kalau dilihat dari sudut pandang psikologis, pornografi itu mengarah pada perlakuan yang mempertontonkan sesuatu yang bersifat erotis. Namun perlu ditelaah kembali arti dari pornografi tersebut dari berbagai macam adat dan kebiasaan. Mungkin bagi wanita yang berkerudung (jilbab) dengan memperlihatkan diri ke hadapan publik tanpa mengenakan kerudung bagi dia itu sudah merupakan suatu kesalahan yang bisa diartikan sebuah tindakan erotis karena memperlihatkan auratnya. Dan istilah kerennya bisa dikategorikan ke dalam salah satu tindak pornografi. Beda lagi bagi orang yang sudah biasa dengan pakaian yang minim alias seksi, mungkin dengan busana yang serba tanggung bisa jadi menjadi bagian dari hidupnya yang tak bisa dikatakan tindakan erotis, karena sudah menjadi kebiasaan sehari-hari. Karena itu hendaknya sebuah undang-undang lebih mengarah ke sesuatu yang membangun dengan tidak mengabaikan sebuah kebiasaan yang terjadi seiring perkembangan zaman. Tak ada kata yang tepat dari sebuah pemikiran untuk bisa mengejawantahkan undang-undang yang dilahirkan, namun tak ada juga kata dari sebuah pemikiran yang bisa melecehkan undang-undang yang telah dirunut dengan baik. Tak ada kata tak ada istilah, namun semuanya itu masih di ambang kata!

Mengapa kerap semuanya itu dikaitkan dengan seksualitas? Hal ini didasari karena pola pikir kita tentang seksual masih beraneka ragam dan sering dianggap ke sesuatu yang bersifat negatif. Masih banyak orang yang menganggap kalau seksualitas itu hanya mengarah pada aspek persetubuhan, ada juga yang menterjemahkan seksualitas itu ke sebuah pemahaman alat kelamin dan fungsi dari alat kelamin tersebut. Dan tak tertutup kemungkinan bahwa ada orang yang mengarah pada perbedaan gender kalau dengan mendengar istilah seksualitas. Tak heran jika karena itu istilah seksual masih dianggap tabu jika diperbincangkan di tengah-tengah keluarga karena masih berfokus pada pola pikir yang sumir. Padahak sangat baik jika di dalam keluarga seksual dibicarakan dan menjadi topic yang dianggap sangat perlu untuk dimusyawarahkan sebab dengan demikian anggota keluarga khususnya anak semakin siap untuk menghadapi masa remaja dan menuju dewasa yang berakhir pada kehidupan suami isteri yang mau tidak mau selalu dekat dengan apa yang dinamakan seksual. Dan perlu untuk diingat bahwa seksual tidak melulu diartikan sebatas hubungan intim atau persetubuhan. Seksualitas masih menganut arti yang sangat mendalam yang bisa dikaji menjadi arti yang sangat berharga bila dilihat dari segi edukasinya.

Dengan beraninya para orang tua untuk membicarakan masalah seksualitas di tengah keluarga, dengan demikian anak bisa mengerti mana yang baik dan mana yang kurang baik atau bahkan sangat tidak baik. Bertolak dari titik itu anak-anak menjadi tahu dan sadar mana yang harus dilakukan dan tentu tak bisa lengkang dari segala tanggung jawab serta aspek konsekwensinya. Ada beberapa hal yang perlu dikaji dalam mencerna arti dari sebuah istilah seksual. Pertama, seksualitas berasumsikan pada sebauh edukasi yang baik yang bisa mengajarkan pada suatu pola pikir dalam kehidupan bermasyarakat. Kedua, seksualitas yang mencerminkan budaya dan adat istiadat bisa mengacu pada suatu yang dinamakan peristiwa masa mendatang yang mampu untuk membentuk karakter seseorang dalam berperilaku. Ketiga, seksualitas hanya batasan ilmu yang dibutuhkan untuk perjalanan sebuah kehidupan yang berazaskan pada kehidupan perkawinan yang monogami.

Tak ada yang bisa mengklaim bahwa pengertian kita salah dalam mengartikan seksualitas. Pemikiran yang kita berikan ibarat sumbangan yang bisa diperkaya dengan istilah-istilah/pengertian yang tentunya berasal dari pemikiran lain dari orang yang mungkin masih jauh dari sempurna. Dari semua pengertian itu kita bisa menelaah dan pada akhirnya sepakat bahwa seksualitas hanya sebatas edukasi yang bila disalahartikan bisa berbuah petaka.

No comments:

Post a Comment