Friday, September 25, 2009

CERPEN


KEHIDUPAN CINTA

Oleh : Benget Simanullang

Kata orang cinta itu ibarat sekuntum bunga. Jika tak disiram dan dirawat akan lisut, layu dan mati. Kata orang lagi, cinta itu ibarat lentera. Jika tak selalu diisi dengan minyak, akan redup dan padam. Lalu… mati! Gelap. Ada juga orang berkat kalau cinta itu buta, tak pernah memandang dari satu sisi kehidupan. Dan juga orang berkata kalau cinta itu ibarat cita-cita. Harus terus diraih, dikejar dengan segala usaha meskipun banyak rintangan menghadang, menentang awan, menyerang lawan bahkan teman, sahabat dan saudara sedarah, cinta itu harus dipertahankan.

Lalu seorang teman bergurau di sampingku. Namanya Dimaz.

“Bagi saya, jika ada orang yang bertanya cinta itu apa, pasti saya akan menjawab…”

“Apa…?” Rahun yang dengan sekejap meneguk orange juice – nya tak sabar menanti sebuah pernyataan yang hendak diutarakan oleh Dimaz.

“Cinta itu ibarat kentut.” Dimaz setengah berbisik.

“Ha… ha… ha…” kami yang mendengarnya tertawa lepas. Dimaz pasti agak sakit hati, sebab itu sudah menjadi tabiatnya. Jika segala sesuatu yang dia ungkapkan ditertawai orang lain, dia merasa kalau harga dirinya telah diinjak-injak.

“Gokil! Kamu pikir…”

tiba-tiba Dimaz memotong,

“Saya tidak mikir apa-apa. Kalian tahu nggak, kalau kentut ditahan-tahan pasti akan sakit perut. Nah… begitu juga dengan cinta.” Dimaz sembari melap mulutnya dengan tissue. Aku hanya tersenyum. Benar juga sih, cinta itu tidak boleh dipendam. Kalau kentut ditahan akan sakit perut, kalau cinta dipendam akan terasa sesak lalu berujung pada sakit, sakit dan sakit…

“Ya, itu benar! Karena itu, jika kita cinta pada saat pertama kali melihat seseorang, kita harus mengatakan langsung pada saat moment itu ada. Sebab jika tidak, semuanya akan sirna. Kita nggak bakal dapat kesempatan lagi sebab kesempatan itu hanya datang sekali saja.” Alvin mengutarakan teorinya. Semua kami yang mendengarnya manggut-manggut. Aku yakin pada saat itu Alvin pasti besar kepala sebab kami yang kini berada di samapingnya sangat antusias mendengar apa yang dia katakan. Ya benar, kesempatan tak pernah datang dua kali.

“Tapi saya masih skeptis!” tukas Rahun.

“Kok kamu masih skeptis?” Alvin meletakkan kembali gelas yang berisi air mineral yang tadinya hendak dia teguk.

“Kalau kita buru-buru mengungkapkan cinta itu nggak baik. Bisa berabe!”

“Emangnya kenapa?” Giring menunda melahap spaghetti­ – nya yang sudah hampir masuk ke mulut.

“Cinta itu jangan buru-buru. Gimana kalau cewek yang hendak kita tembak itu ternyata sudah punya bokin, tunangan atau lebih parahnya lagi, suami? Jadi kita harus kudu observasi dulu. Kalau sudah merasa klop, nggak ada lagi rintangan, baru kita buat strategi untuk mengungkapkan isi hati.” Rahun berapi-api menyampaikan apa yang menurutnya baik.

“Teori kamu itu kampungan!” timpal Alvin.

“Kampungan apanya?” Rahun tak terima dikatain kalau teorinya kampungan.

“Asal kamu tahu ya, di zaman ini nggak ada lagi cinta yang butuh observasi. Kagak zamannya bro! Semua cewek sama saja, dan juga cowok!”

“Maksud kamu apaan? Saya jadi tambah bingung…” Dimaz mengeryitkan keningnya.

“Jangan pura-pura bego deh…! Masa sih kamu sebagai cowok nggak merasakan itu?” Alvin masih saja merahasiakan maksud perkataannya.

Suer, saya sama sekali nggak bisa nangkep maksud kamu…”

Bro, sekarang ini kalau ada yang lebih cantik bagi pria kayak kita-kita ini, dan lebih ganteng bagi gadis-gadis di luar sana, nggak bakalan teringat lagi sama yang di rumah. Yang ada di otak hanya yang ada di depan mata. Ingin memeluknya dan mungkin ingin melumatnya. Dan parahnya lagi, pasti ada pikiran di otakmu untuk mengawininya. Binal bangat, kan? Gitu potret manusia sekarang. Dunia selingkuh sudah merajalela, bro!

Aku semakin bingung mendengar pembicaraan itu. Pembicaraan seperti ini sudah menjadi kebiasaan kami; aku, Alvin, Giring, Dimaz dan Rahun di saat rest dari kerjaan, di kantin sambil mengisi perut yang sudah setengah hari belum terisi. Apalagi kalau topik yang diangkat adalah masalah cinta dan seks, semuanya pasti antusias.

Tak satu pun yang aku bantah dan tak satupun teori yang aku bagikan.

“Jadi menurut kamu nggak ada lagi cinta sejati, gitu?” Giring memastikan Alvin.

Kalau itu sih saya nggak bisa pastikan! Tapi yang jelas, manusia itu sudah seperti binatang…” Alvin setengah bersuara. Aku spontan terkejut karena tak menyangka Alvin menilai manusia sekarang separah itu. Lalu Alvin melanjutkan,

“Mereka pengennya gonta-ganti pasangan. Pengen tidur dengan wanita yang begini, dengan lelaki yang begono dan yang begunu. Intinya, nggak pernah puas denga satu merk.”

“Shampo kaliii…” Rahun langsung menyahut.

* * *

Papa. Aku langsung teringat sama papa. Papa adalah sosok yang sangat baik, perhatian sama isteri dan anak-anaknya, tidak pelit dan masih banyak lagi kebaikan yang sudah mendarah-daging dalam dirinya. Hanya satu penyakitnya yang aku yakin nggak bakal pernah bisa hilang lenyap dari raganya.

Wanita. Itulah penyakitnya. Papa nggak bakalan tahan kalau melihat cewek yang cantik. Air liurnya pasti akan meluber. Dia akan berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan apa yang telah diinginkannya itu. Apapun rintangannya. Sampai titik darah penghabisan dia akan terus berusaha. Pahlawan kaliii... Untuk menyembunyikan kedoknya itulah mungkin papa menghipnotis kami agar tak pernah merasa curiga sedang apa papa di luar sana. Mungkin dulu itu bisa dilakukannya, tetapi sekarang nggak lagi sebab aku sudah besar dan telah mengerti tentang kehidupan. Dan mama-lah yang menjadi korban akal bulus papa.

Jadi apa yang Alvin katakan itu benar adanya. Dan papa-lah salah satu contoh yang bisa diangkat sebagai gambaran para suami (lelaki) yang tidak pernah puas dengan satu merk. Dia sangat hoby memakai merk-merk lain. Suka main perempuan di luar sana. Berpindah-pindah dari satu hotel ke hotel yang lain. Bahkan aku pernah melihat papa bersama seorang cewek yang masih berpakaian seragam es-em-u. mereka masuk ke sebuah hotel. Entah apa yang mereka lakukan di sana. Yang pasti, menurut aku mereka akan bercinta.

Dua minggu kemudian setelah peristiwa dengan anak sekolahan itu, aku melihat papa lagi menggandeng seorang gadis yang adalah teman sekampus aku. Ternyata dia itu ayam kampus. Mereka berjalan mesra bak pasutri. Dalam hati aku berpikir, laris juga papa aku. Aku nggak benci sama papa, tapi aku menyesal punya papa sebinal dia. Mulai dari itu aku yakin kalau papa sering menggauli wanita selain mama. Entah sudah berapa adik aku di luar sana. Semoga saja papa selalu pakai kondom dan dengan demikian tak ada adik aku yang berkeliaran di luar sana. Dan tentunya aku sangat kasihan sama mama. Dia terus setia menunggu papa di rumah padahal papa selalu nyosor di tempat lain. Aku tak pernah mau membuka kedok papa sebab aku takut mama tambah sedih. Cukup hanya aku yang tahu. Kakak-kakakku pun tak perlu tahu.

* * *

Kok bengong aja, Ben? Lagi mikirin apa?” Giring membangunkan aku yang sedang asyik mengingat kelakuan sang papa.

Ngggak, aku nggak mikirin apa-apa kok! Aku hanya…”

“Hanya mikirin kenapa kamu jomblo melulu, iya?” potong Dimaz.

“Kamu tahu nggak kenapa kamu jomblo terus?” Aku langsung mengalihkan pandangan ke arah Alvin yang merupakan sumber suara. Aku yakin kalau dia pasti akan mengeluarkan petuah yang kalau jujur aku katakan, nggak penting bangat!

“Sebenarnya kamu itu ganteng. Malah lebih ganteng dibanding kita semua yang ada di sini. Kerjaan bagus, body oke, tergolong atletis yang banyak digemari gadis-gadis. Saya yakin bangat kalau kamu banyak ditaksir cewek-cewek. Menurut saya, kamu sendiri yang buat kamu ngejomblo terus hingga detik ini. Kamu terlalu pesimis untuk mengungkapkan rasa cinta sama cewek.”

“Ngomong-ngomong, kamu sudah pernah kissing, belum?” Rahun nyosor bertanya.

“Kamu masih perjaka kali, ya?” Giring menambahkan.

Aku hanya tersenyum mendengar pertanyaan-pertanyaan konyol yang nggak berarti itu. Aku berusaha santai dan menenangkan diri dengan meneguk kopi yang ada di hadapanku. Mereka sangat penasaran dan aku yakin mereka pasti ingin tahu bagaimana aku dengan kehidupan cintaku. Tetapi aku memilih untuk tidak berkomentar. Kalau keempat temanku itu selalu bercerita bagaimana mereka melewati hari-hari mereka dengan cinta. Pasti banyak hal yang akan mereka kisahkan peristiwa pada malam sebelum hari ini. Jadi aku sangat kenal bangat dengan mereka.

Kalau Alvin sudah seratus kali ganti pacar. Dan dia sangat bangga dengan itu semua. Dia juga mengakui bahwa bercinta ala barat menjadi kebiasaannya. Free sex gitu deh. Dan begonya, cewek-cewek yang jadi bokinnya itu mau-mau saja. Pengen juga kali, ya…? Itulah pengakuan dia. Dan menurut aku apa yang dikatakannya itu sangat benar sebab aku sudah pernah melihat dengan mata kepala sendiri ketika aku sedang main ke kost-nya. Dia sedang hanyut dalam asmara dengan seorang cewek yang tak lain ialah Rashya, teman sekantor kami. Padahal Rashya bukanlah pacarnya. Kalau Giring, pengakuannya dia sudah nggak perjaka lagi saat dia masih kelas dua es-em-u. Dia bercinta dengan pacar pertamanya yang sekarang sudah nikah dengan pria lain meskipun pengakuannya pria itu jauh lebih jelek dibaning dirinya. Mereka putus karena agama yang berbeda. Kalau Dimaz mempunyai kisah cinta yang menjijikkan. Dia pernah bercinta dengan ibu kost-nya. Lantaran uang kost yang terlanjur habis, keperjakaannya yang menjadi bayaran untuk itu. Ketahuan sama suami ibu kost-nya dia dihajar dan diusir dari kost-nya itu. Rahun. Dia kelihatan alim. Agak pendiam. Dia itu orang yang terganteng di kantor kami. Hanya sayang, pacarnya nggak jelas. Dia lebih sering dan senang menghabiskan malam-malamnya dengan tante-tante. Katanya, di samping bisa memenuhi hasrat seks, uang terus mengalir. Memang Rahun orang yang nggak pernah merasa cukup kalau bicara mengenai uang. Dasar cowok murahan! Bagiku dia itu seorang gigolo. Itulah potret keempat temanku. Nggak ada yang beres.

* * *

Aku? Sebenarnya aku punya pacar. Hanya keempat sobatku itu nggak tahu karena aku nggak banyak cerita tentang itu. Namanya Zumi. Aku cinta mati sama dia. Cantik bangat dan seksi. Kadang-kadang aku minder menjadi pacarnya, apalagi kalau jalan ke mall. Tampangku serasa jelek bangat kalau di depan dia. Aku nggak tahu kenapa dia mau menerima cinta dariku. Tapi itu nggak penting. Yang jelas aku sudah senang karena bisa memilikinya.

Aku dan Zumi sudah satu tahun jadian. Aku memberi dia kebebasan. Nggak ada yang namanya aturan dalam hubungan kami. Harus saling percaya, itulah cinta yang sesungguhnya bagiku. Dan satu prinsip bagi aku, nggak bakalan ML sebelum aku sah jadi suami. Beda bangat kan aku sama bokap? Zumi sangat senang mendengar prinsipku itu.

“Ternyata masih ada laki-laki yang baik di dunia ini.” Zumi memuji.

“Masih banyak. Hanya sayang, lebih banyak yang jahatnya.” sahutku.

“Karena itulah saya cinta bangat sama kamu, Ben.”

“Aku juga cinta bangat sama kamu, Zum. Jangan tinggalkan aku, ya…” pintaku.

Aku percaya seratus persen dengan semua yang Zumi katakan. Aku merasa sangat beruntung bisa menjadi pacar Zumi. Di samping dia cantik ternyata juga sangat tulus. Aku ingin kalau boleh memilih dialah yang nantinya menjadi labuhan cinta hidupku. Berakhir dengan dia dalam peraduan. Suami-Isteri. Sekarang aku hanya tinggal menjaga dan merawat agar cinta yang ada terus hidup dan bernyala.

Tapi sial. Kepercayaanku ternyata disalah-artikan. Ketika aku hendak membeli cincin, hadiah ulang tahun untuknya, aku melihat dia sedang asyik berjalan dengan seorang pria lain yang sudah tua. Aku yakin dia itu bukan papanya sebab mereka sangat mesra. Darahku serasa berhenti mengalir. Dadaku sesak dan ingin meledak. Sekujur tubuhku bergetar, keringat dingin. Mataku terus tertuju ke arah mereka yang semakin tambah mesra itu. Aku masih nggak percaya dengan apa yang aku lihat ini. Zumi semakin mesra memeluk pria paruh baya itu. Dia memegangi wajah pria itu, mencium pipinya, dan lain-lain. Pria itu berbalik dan melihat ke belakang tapi tak menyadari keberadaanku di sana. Dan bisa jadi dia nggak kenal sama aku. What….???

Aku tambah terkejut, sebab pria itu… pria itu adalah papaku!

* * *

Aku memandang keempat temanku itu. Rasanya ingin aku tumpahkan air yang ada di dalam gelas yang masih aku pegang sekarang agar semuanya bisa diam dan tak membahas masalah cinta. Sebab jika pembicaraan membahas seputar cinta, aku jadi semakin tak bisa melupakan adegan yang aku saksikan sendiri, di mana kekasihku pacaran dengan papaku sendiri. Namun itu semua tak aku lakukan sebab menurutku mereka punya hak untuk berbicara sebab Negara ini sudah merdeka. Dengan demikian warga Indonesia berhak memberi pendapat meskipun banyak yang tidak membangun.

Jangan pernah salah mengerti apa itu cinta. Cinta itu indah dan kejam pada waktu!

No comments:

Post a Comment